Saturday, May 17, 2014

Suka Duka Fasilitator Desa

Di awal Tahun 2011,tepatnya pada bulan februari 2011 saya di tawari pekerjaan untuk menjadi seorang Fasilitator yang nantinya akan di tempatkan di salah satu desa yang masuk program READ.Awalnya saya ragu.Ada beberapa hal yang menjadi kekuatiran saya yakni bahwa saya tidak akan mampu,program pemberdayaan bagi saya masih asing,latar pendidikan saya yang hanya tamatan SMEA,belum ada pengalaman,saya tidak punya kekuatan dan keberanian.Itulah beberapa factor yang membuat saya agak ragu untuk menerima pekerjaan ini,padahal pekerjaan ini saya butuhkan juga.Akan tetapi berkat dorongan dan motivasi dari teman saya yang memperkenalkan program ini saya bersedia dan segera memasukkan berkas sebagai syarat untuk pekerjaan ini.Setelah berkas di masukkan,di sampaikan kepada saya menunggu saja karena bagi yang lolos berkas akan di panggil untuk interviev.


Sambil menunggu saya tetap melakukan tugas dan tanggungjawab saya sebagai tenaga honorer pada kantor kelurahan Pamona.Saya sudah agak melupakan bahwa pernah memasukkan berkas untuk lamaran pekerjaan di READ yakni untuk program pemberdayaan sebagai seorang fasilitator.Bulan Juni tepatnya hampir 4 (empat bulan) dari saya memasukkan berkas saya mendapat panggilan untuk Interviev karena ternyata saya lolos berkas.Dengan hati berdebar-debar dan masih penuh tanda Tanya bahwa sebenarnya ini program apa,saya datang ke poso pada kantor Dinas Pertanian sebagai yang akan mewawancara kami.Pada saat wawancara ternyata saya mendapat urutan pertama.Saat memasuki ruang Interviev dan menghadap pada penguji pertama saya sudah gemetaran,karena ternyata saya harus melewati 4 (empat) orang penguji yang akan mewawancara kami.Akan tetapi setelah saya duduk dan berkata pada diri sendiri di dalam hati bahwa saya harus tenang agar bisa menjawab semua pertanyaan yang akan di ajukan.Saya sangat bersyukur bahwa beberapa pertanyaan dari 4 (empat) penguji adalah yang pernah saya pelajari pada sekolah perempuan asuhan AMAN (Asian Muslim The Action Network) INDONESIA seperti Gender,apa itu perbedaan dan kesamaan,retorika,walaupun saya masih terbata-bata dalam penyampaian tetapi saya sudah merasa sudah itu yang maksimal yang bisa saya sampaikan.Didalam ruang penguji hampir satu jam lamanya.Setelah selesai dan saya keluar ruangan baru terasa lega,dan di sampaikan kepada kami calon-calon fasilitator bahwa menunggu saja yang lolos akan mendapat undangan untuk mengikuti pelatihan sebelum di terjunkan di desa-desa.Kembali ke tentena saya harap-harap cemas apakah saya akan di terima atau tidak.Keraguan saya pupus sudah karena seminggu dari tes wawancara saya mendapat undangan untuk mengikuti pelatihan sebagai fasilitator di poso selama 4 (empat) hari.saya senang sekaligus cemas apakah saya bisa.Akan tetapi semua keraguan itu saya hilangkan dengan rasa percaya diri bahwa saya pasti bisa.



4 (empat) hari di latih untuk menjadi seorang fasilitator saya rasa tidak cukup karena waktunya singkat.Pada saat pelatihan baru saya memahami apa itu pemberdayaan bahwa kita akan memberdayakan masyarakat melalui peningkatan kapasitas mereka,merubah cara pandang atau pola pikir mereka yang intinya kita akan merubah mereka sesuai dengan kapasitas yang ada pada mereka.Ini baru teori yang saya dapatkan dan akan kita lakukan di tengah-tengah masyarakat.



Setelah selesai pelatihan saya menandatangani kontrak perjanjian kerja dan di situ saya sudah tahu saya di tempatkan di desa Kancuu Kec Pamona Timur Kab Poso,dan sudah terhitung bekerja pada saat saya menandatangani kontrak.Kembali dari poso saya bersiap untuk ke Kancuu karena sudah harus melapor kepada kepala Desa dan UPDD (unit pengelola dan Desa) program READ.Disinilah awal saya kali pertama terjun langsung ke masyarakat.pada saat pertama saya menginjakkan kaki di desa kancuu,desa yang baru pertama saya datangi,saya merasa bahwa inilah duniaku sekarang,bahwa saya harus mengabdi di masyarakat.Awal mula di desa kancuu saya di tempatkan di rumah sekretaris Desa.tinggal dan membaur dengan masyarakat membuat saya banyak pengalaman berharga.selama seminggu saya tinggal dengan keluarga sekdes saya di pindahkan ke rumah Ketua UPDD program READ untuk mempermudah pekerjaan saya.Tinggal bersama keluarga Ketua UPDD Kancuu saya tidak merasa sebagai tamu akan tetapi saya merasa adalah bagian dari keluarga mereka,jadi saya tidak kaku dan canggung lagi di dalam rumah.Sebelum saya melakukan pekerjaan saya,saya membantu juga aktivitas rutin di dalam rumah seperti menyapu,mencuci piring,memasak bahkan membantu Ibu rumah tangga sewaktu mencuci ke sungai,yang pada akhirnya mereka tidak segan kepada saya bahkan sudah menganggap saya bagian dari keluarga mereka.Di desa Kancuu ada 7 (tujuh) kelompok yang akan saya dampingi.hampir setiap malam saya berkunjung ke pengurus-pengurus kelompok yang ada untuk membuat jadwal pertemuan dengan kelompok-kelompok yang ada.



Selama masa pendampingan saya di kancuu,banyak hal yang saya pelajari.Bukan hanya kelompok yang belajar akan tetapi saya juga belajar dari kelompok itu sendiri.Hal tersulit yang saya rasakan bahwa saya harus terjun langsung ke kebun anggota kelompok yang jaraknya 5 (lima) Km dari Desa dengan jalan yang mendaki dan di tempuh Cuma dengan berjalan kaki.Akan tetapi bagi saya karena sudah berkomitmen bahwa saya harus bekerja dengan Totalitas yang ada pada saya sehingga semua kendala itu tidak saya rasakan.Kelompok saya dampingi dengan penuh sukacita bahwa kebahagiaan dan keberhasilan mereka adalah kebahagiaan dan keberhasilan saya juga.Kelompok saya ajak dan beri motivasi apa dari berkelompok itu yakni bahwa dengan berkelompok kita bisa menyatukan pendapat dan pikiran kita untuk kemajuan bersama.berbeda dengan kita hanya bekerja sendiri berarti itu hanya satu pikiran dan satu pendapat saja.Juga anggota kelompok sudah memahami dari arti kebersamaan di dalam kelompok.



Didalam kelompok saya memberikan motivasi untuk membuka pola pikir masyarakat.Ada beberapa hal yang saya dorong agar mereka bisa membuka wawasan mereka untuk kearah kehidupan yang lebih baik lagi diantaranya adalah :



1. Visi adalah sama dengan mimpi kita.kita harus punya mimpi yang besar untuk menjadi sukses,kita harus mempunyai Tujuan.tanpa arah dan tujuan kita pasti tersesat,maka kita harus mempunyai tujuan yang besar.jangan kita berpikir lebih dulu bahwa itu terlalu besar,karena jikalau kita sudah berpikiran demikian itulah awal kegagalan dalam hidup kita,kita juga harus mempunyai harapan dan cita-cita.tidak ada yang mustahil di dalam hidup ini,sukses itu tergantung daripada kita sendiri mau sukses atau tidak,karena kita sudah di beri talenta dan kemampuan tinggal dari kita yang akan mengapresiasikannya



2. Opportunity / Kesempatan

Kesempatan itu hanya datang sekali di dalam kehidupan kita,jika kesempatan itu datang kepada kita tangkaplah itu.itu adalah filosofi cina.Kalau untuk kita orang pribumi kesempatan itu di ibaratkan bulatan karena kita terlalu banyak menunda-nunda pekerjaan dan dalam hal apa saja.Oleh karena itu janganlah kita cemburu jika Negara cina lebih maju daripada Negara kita.Kesempatan itu di berikan kepada siapa saja tinggal dari kita yang menyikapinya.


3. Koneksi

Kita harus mempunyai koneksi atau hubungan yang baik dengan siapa saja kalau kita ingin maju


4. Komitmen / Perjanjian

Perbuatan dan ucapan yang kita lakukan dan kita ucapkan harus kita patuhi.kalau kita akan berbuat sesuatu kita harus komitmen dan konsisten,apapun tantangan dan hambatan yang menghadang akan kita lalui bersama-sama


5. Keterikatan / kesetiaan

Mari kita bersama-sama berjanji untuk bersama-sama di dalam kelompok ini agar bisa berhasil apa yang kita mimpikan bersama,mari kita bergandengan tangan dan kita merasakan bahwa kita adalah bersaudara dengan saling mensupport dan saling menunjang


6. Attitude / Sikap kita setiap hari itu yang akan menjadi cerminan kita karena dari sikap kita orang akan mengenal kita



7. Legacy / Warisan apa yang akan kita tinggalkan untuk generasi kita,Bahwa inilah kelompok yang akan di teruskan oleh anak cucu kita dan inilah warisan terbesar yang akan kita tinggalkan untuk anak cucu kita



Saya sangat bersyukur bahwa apa yang saya sampaikan ke tengah-tengah kelompok bisa mereka pahami dan sedikit demi sedikit sudah bisa membuka pikiran dan wawasan mereka.Terbukti berkat keuletan dan kerjasama yang baik di antara mereka maka kelompok READ kakao 1 Desa Kancuu berhasil sebagai juara kedua dari 30 (tigapuluh) Desa READ yang ada di Kab Poso dan mereka mendapat hadiah tambahan dana untuk di pakai dalam kelompok mereka.



Seiring berjalannya waktu,setelah masa dampingan saya di desa kancuu telah berjalan 2 (dua) Tahun 1(satu) Bulan,tiba-tiba saya akan di Mutasi ke Desa Wayura yang lebih jauh lagi jaraknya dari Desa Kancuu.saya sempat bingung,marah,kecewa,kenapa saya harus di mutasi ke desa yang sama sekali saya belum kenal dan asing bagi saya.Di dalam benak saya orang yang di Mutasi atau di pindahkan itu adalah orang yang membuat kesalahan.saya berpikir sudah kesalahan apa yang saya perbuat sehingga Cuma saya yang akan di Mutasi.Setelah saya mendapat panggilan resmi dari atasan saya baru saya mendapat penjelasan yang baik bahwa saya di mutasikan ke Desa Wayura bukan karena saya melakukan suatu kesalahan akan tetapi Fasilitator Desa wayura sudah di berhentikan dan tidak ada lagi fasilitator yang pas untuk membenahi Desa wayura yang boleh di kata dari semenjak masuk program READ di desa itu tidak ada hal yang berarti yang telah di lakukan 3 (tiga) fasilitator Desa Wayura yang terdahulu dan dengan melihat bahwa Desa Kancuu sudah bisa mandiri,jadi jika di tempatkan seorang Fasilitator yang baru di Kancuu tidak akan bermasalah.Itulah penjelasan resmi dari atasan saya pada waktu itu.Walaupun dengan berat hati terpaksa saya tinggalkan Desa Kancuu yang membawa kenangan tersendiri di dalam sejarah kehidupan saya.



Terhitung tanggal 1 Agustus 2013,adalah tanggal penugasan saya di desa Wayura.Awal masuk di desa saya merasa sulit karena harus beradaptasi lagi dengan lingkungan dan suasana yang asing bagi saya.Akan tetapi karena di hati saya sudah terpatri untuk pengabdian di tengah-tengah masyarakat maka saya menjalani kehidupan pendampingan saya di Wayura dengan penuh suka cita.Lain di Kancuu lain pula di wayura.Itu yang saya rasakan awal mula di Wayura.Karena saya tinggal fasilitator pengganti maka saya merasa kesulitan untuk melakukan pembenahan baik di dalam kelompok dan di dalam Tubuh UPDD itu sendiri.saya coba pakai tehnik pendampingan yang saya lakukan di Kancuu dan terbukti berhasil.pelatihan-pelatihan yang telah saya lakukan di Desa Kancuu saya lakukan di Desa wayura,dan saya merasa senang dengan sambutan yang baik dari kelompok READ yang ada di desa wayura.Untuk di Wayura saya membina 10 Kelompok.dan masing-masing dari kelompok itu mempunyai cirri khas tersendiri yang membuat saya jadi betah juga menjadi seorang Fasilitator di desa Wayura.



Di wayura saya membekali juga kelompok dengan motivasi-motivasi untuk membuka wawasan dan pikiran mereka.saya mengajarkan kepada mereka suatu perencanaan yang baik dan matang untuk menjadikan mereka suatu kelompok yang berkwalitas.artinya kwalitas bagus karena di atur dengan bagus pula,banyak cara-cara yang bisa kita lakukan Cuma kadang dari kelompok itu sendiri yang tidak mau untuk melakukan inovasi-inovasi atau terobosan-terobosan yang baru.saya juga memberi masukan kepada kelompok bahwa jangan hanya terpaku untuk menadahkan tangan menanti bantuan,karena tanpa bantuan juga kita bisa mampu berdiri sendiri,dan saya memberi pemahaman bahwa pakailah momen pemberian bantuan ini sebagai batu loncatan menuju kesuksesan,dan pakailah moment ini untuk merubah kehidupan kita melalui mimpi yang besar,jangan bantuan ini akan menjadikan ketergantungan kita untuk selalu menadahkan tangan menanti bantuan,karena kita bisa bekerjasama dan bisa untuk gotong-royong.



saya sangat bersyukur bahwa kehadiran saya juga bisa di terima dengan baik oleh masyarakat yang ada di Desa wayura.Selain itu banyak juga kendala-kendala yang saya hadapi terutama karena saya tidak tahu membawa kendaraan roda 2 (dua) sehingga mempengaruhi juga di dalam pendampingan saya,misalnya ada pertemuan Internal Meeting di pendolo,saya selalu terlambat karena masalah kendaraan.Yang menyebabkan orang di wayura jarang keluar karena kondisi jalan yang sangat tidak baik apalagi kalau musim hujan tiba,maka jalanan semakin rusak dan berlubang.



Demikian juga jika saya dari tentena mau ke Desa Wayura,harus turun di Desa Korobono menunggu ojeg atau gerobak yang lewat untuk masuk ke dalam yang berjarak 5 (lima)Km dari Desa Korobono.Jadi jika tidak ada yang akan menjemput saya terpaksa saya menunggu sampai ada yang bisa membawa saya masuk ke dalam.Akan tetapi hal ini tidak akan mengurangi niat saya di dalam pendampingan ini.saya sangat bersyukur saya bisa seperti ini berkat sekolah perempuan yang telah menempa saya untuk menjadi seorang perempuan yang tangguh serta mandiri dan seorang perempuan yang tidak akan lekas menyerah di dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan ini jikalau kita ingin menjadi seorang yang sukses.Terimakasih Aman Indonesia,Terima kasih READ,berkat kalian saya bisa jadi begini dan tahu apa arti untuk sebuah pemberdayaan.Akhir dari cerita saya ini saya hanya akan menyampaikan motto dari pendampingan saya adalah “Tersenyumlah Untuk Sebuah Karya Pengabdian”,motto yang terus memotivasi saya untuk tetap tersenyum di dalam keadaan apapun.


***
Nama Penulis     : Netaria Perabu
Fasilitator Desa  : Wayura Kec Pamona Tenggara Kab Poso Prop Sulawesi Tengah


Terima kasihku untuk semua pihak yang telah menjadikan saya bisa seperti ini,Tuhan yang Maha Kuasa yang akan membalas segala kebaikan yang telah di berikan kepada saya.TERIMA KASIH……

No comments:

Post a Comment