Konflik Bernuansa SARA yang terjadi berkepanjangan di Kabupaten Poso Propinsi Sulawesi Tengah,membawa cerita kepedihan tersendiri di hati masyarakat kabupaten poso yang mengalaminya.
Demikian juga yang terjadi pada keluarga bapak Djekson Ewagola.Desa Masani,sebagai desa tempat tinggal bapak Djekson Ewagola adalah salah satu desa dari sekian desa yang terkena konflik bernuansa SARA di Kabupaten Poso.Rumah beserta harta benda yang di punyai,dalam sekejap habis begitu saja.
Dengan kepedihan hati,bapak Djekson Ewagola memboyong keluarganya untuk mengungsi menyelamatkan diri,maka Desa Kancuu yang terletak sekitar 110 km dari kota poso yang berada pada kecamatan pamona Timur menjadi tujuan untuk mengadu nasib dari Bapak Djekson Ewagola.
Dengan hanya berbekal sepuluh jari saja Bapak djekson memulai hidup di desa Kancuu.Dengan hanya seorang diri Bapak Djekson membuka hutan untuk bisa di pakai berkebun.Belum ada alat yang memadai pada saat itu seperti sensor,bapak Djekson hanya memakai kampak, dan penebangan sampai pembakaran di lakukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan.Setelah itu untuk langkah awal di Tanami dengan tanaman cabe,sayur sawi,sayur bayam.sambil menunggu dari hasil tanaman itu bapak djekson Ewagola mengambil bibit kakao di desa Matako,untuk di Tanami di lahan yang sudah di bukanya.
Untuk tanaman cabe dan sayuran setelah 3 bulan sudah menghasilkan.untuk cabe sekali panen sampai 150 kati (kati adalah tempat sabun wings yang di pakai untuk mengukur) dan harga 1 kati 2.500,- yang di jual di pasar tradisional di tentena ibukota kecamatan yang berjarak 48 km dari desa kancuu.demikian juga dengan sayur sawi dan bayam.Hasil dari berkebun tanaman cabe dan sayuran sudah bisa menghidupi kehidupan awal bapak djekson ewagola di desa Kancuu.Walaupun masih sangat berkekurangan,akan tetapi dengan penuh rasa syukur Bapak djekson menjalani kehidupan ini.
Seiring berjalannnya waktu,kondisi perekonomian keluarga bapak djekson ewagola sudah ada peningkatan.Dengan masuknya program READ (Rural Empowerment and Agricultural Development) di desa kancuu pada tahun 2009 Bapak Djekson mendapat kesempatan untuk meminjam dana bergulir pada seksi pengembangan usaha dana bergulir yang di kelola oleh UPDD (unit pengelola dana desa) dan mendapat pinjaman 1.000.000,-. Dengan dana tersebut Bapak Djekson Ewagola bisa membeli pupuk,obat-obatan untuk tanaman kakaonya.
Pada Tahun 2012,kelompok yang ada di lebur menjadi kelompok per komoditi sesuai dengan usaha yang ada.Bapak Djekson ewagola masuk pada kelompok READ komoditi kakao 2.
Dengan masuknya bapak Djekson pada kelompok ini lebih menyemangati bapak Djekson ewagola dalam mengolah kebun kakaonya.Kegiatan kelompok READ kakao yakni kegiatan mesale (gotong-royong) yang di lakukan setiap minggu secara bergantian pada anggota kelompok itu sendiri sangat di rasakan manfaatnya.Kegiatan pemangkasan,sanitasi,pemupukan yang selama ini di lakukan sendiri oleh bapak djekson yang biasanya seminggu untuk pemangkasan,setelah bergabung di kelompok dan melakukan kegiatan mesale itu hanya di lakukan satu hari saja dengan bantuan anggota kelompok.”dengan berkelompok kita bisa saling curhat tentang hal yang tidak kita ketahui atau kekurangan kita di dalam berkebun dan bisa juga saling member masukan,” kata Bapak Djekson.
1. Kelompok melakukan kegiatan rutin seminggu sekali yakni pada setiap hari senin minggu berjalan yakni kegiatan mesale (gotong-royng) secara bergantian,yang jadwalnya telah di atur oleh pengurus kelompok
Saat ini,produksi kakao bapak Djekson untuk sekali panen raya mencapai 1-2 Ton atau 2000 kg dengan harga jual 19.000,- per kg.Dengan hasil peningkatan produksi kakao ini sudah memberi perubahan pada kehidupan Bapak Djekson Ewagola sekeluarga.
Untuk program READ ini menurut bapak Djekson beda dengan program-program pemberdayaan lain yang juga masuk di desa kancuu karena program READ langsung bersentuhan dengan masyarakat melalui pendampingan secara rutin oleh Fasilitator desa.
Ada kata penyemangat yang di berikan olerh Bapak djekson ewagola untuk menghadapi hidup ini :
1. Punya kemauan
2. Punya semangat
3. Punya kesabaran/ketekunan
***
Netaria Parabu adalah seorang fasilitator Lokal program READ yang ditempatkan di Desa Kancuu. Dengan berbekal pengetahuan yang didapatkan dari Sekolah Perempuan Perdamaian yang difasilitasi AMAN Indonesia

No comments:
Post a Comment